Kamis, 20 Agustus 2009

Kajian Buku Sandiwara Langit




Rekomendasi: Buku "Sandiwara Langit", kisah nyata dua sejoli, suami istri yg kukuh di atas keimanan. Mereka tahan banting thd musibah yg bertubi2. Keluarga istri jg berniat merusak keharmonisan mereka. Namun Alloh bersama mereka. Makar mereka terpental. Benar2 duh cinta...rasanya begitu sulit tuk dilukiskan. Akhir cerita, istri meninggal dgn keridhoan suami. "Wahai istriku, suami mana yg tdk ridho beristrikan kamu?".

Indra Arta Kusuma



Hadiri kajian buku "SANDIWARA LANGIT" oleh Ustadz Abu Umar (penulis)

Insya Alloh pada:

Hari : Jumat, 21 Agust 2009
Jam : 15.30-18.00
Tempat : SKODAM Depan Tugu Malang

dan

Hari : Selasa, 1 September 2009
Jam : 15.30 - selesai
Tempat : Gedung Kedokteran Universitas Brawijaya Malang

(ada yg lain juga oleh penulis yg sama, "Kisah dan Perjuangan Rosululloh")

Hari : Senin, 1 September 2009
Jam : 09.00-selesai
Tempat : Masjid Qolbun Salim, jl. Kalijogo Dalam, belakang UIN Malang


"Barang siapa berjalan keluar mencari ilmu, maka Alloh memudahkan untuknya jalan ke surga" [HR. Muslim]

Kami tunggu kehadiran antum.




Selasa, 04 Agustus 2009

[Kajian Malang] Marhaban Ya Ramadhan



ramadhan

Ramadhan datang kembali, tidak ada jaminan ini bukan Ramadhan terakhir. Mari kita optiimalkan Ramadhan "terakhir" ini..

Ikutilah bersama :

KAJIAN RAMADHAN
oleh : Al-Ustadz Abdullah Hadrami

Hari : Ahad, 9 Agustus 2009
Pukul : 08.00 - 10.00 WIB
Tempat : Masjid AsSalam Bendungan Riam Kanan / Belakang ITN

Tersedia kitab Fiqh Ramadhan @Rp.5000,-

"Jadikanlah Ramadhan 1430 H kita jalani dengan amal disertai ilmu".

Diselenggarakan oleh Majelis Taklim Husnul Khotimah & Remas As-Salam.






Kamis, 30 Juli 2009

QIBLATI - Launching dan Bedah Buku




Hadirilah...
Launching dan bedah buku Abu'l Hasan Al-Asy'ari, Imam yang Terdzalimi

Siapakah dan bagaimana alur kehidupan seorang Imam Abu'l Hasan yang disebut sebagai pencetus Asy'ariyyah dan pelopor ahlu sunnah?

Sudah benarkah pemahaman 'Aqidah Asy'ariyyah yang diikuti oleh kebanyakan kaum muslimin?

Benarkah Imam Al-Asy'ari dan para ulama Asy'irah bertaubat?

Di sini jawabannya:

Hari : Ahad, 11 Sya'ban 1430 H / 20 Agust 2009
Waktu : 08:45 WIB
Tempat : Masjid Al-Ghifari (Griyashanta) Malang
Pemateri : Al-Ustadz Agus Hasan Bashori, Lc. M.Ag.

DISKON
Dapatkan juga diskon khusus untuk buku dan majalah Qiblati dan Kinan di acara tersebut.

CP. 085 855 041 000 / 081 233 430 433




Rabu, 29 Juli 2009

Selasa, 07 Juli 2009

Untuk Adikku Mahasiswa Baru

Tahun ajaran baru telah dimulai. Para murid mencari sekolah baru dan para calon mahasiswa mencari tempat kuliahnya. Mereka semua menginginkan masa depan yang lebih baik. Lebih baik dari orang tuanya, dari lingkungannya, dan lebih baik dari semuanya yang pernah mereka temui.

Saya bersyukur, masih besar keinginan para pemuda zaman sekarang untuk menuntut ilmu. Meskipun kondisi perekonomian mereka lagi seret, mereka tetap berusaha mencari jalan keluar, agar permasalahan ekonomi tidak memupus semangat belajar mereka. Mulai dari mengandalkan beasiswa, sistem SPP subsidi silang, atau sepertinya ada yang menjual sawah dan ladang yang bapak dan ibu mereka miliki. Kantor pegadaian juga tak luput untuk mereka datangi, sekiranya emas dan perhiasaan ibu mereka mampu untuk sementara waktu bisa dijadikan uang demi membiayai pengeluaran sekolah dan kampus mereka yang tidak murah.

Biasanya saya tidak begitu sering berada di kampus ketika pendaftaran mahasiswa baru dibuka. Yah, mungkin sekedar menyelesaikan sedikit urusan di kampus yang belum selesai, jadi siang itu saya pergi ke kampus, kampusku tercinta.

Setiba di kampus, betapa banyaknya terlihat calon-calon mahasiswa yang masih tampak lugunya menjinjing tas yang penuh dengan muatan, bertolak ke kost baru mereka sepertinya. Pikir saya isinya mungkin pakaian-pakaian serta kebutuhan sehari-hari ketika di kota Malang. Memang benar, rata-rata calon mahasiswa itu berdatangan dari luar kota menuju kota Malang.

Oh, di belakang mereka ternyata bapak-ibu mereka menyertai langkah-langkah mereka. Bapak serta ibunya tak luput juga membawa dus-dus penuh, entah apa isinya. Adik kecilnya atau kerabatnya juga ikut dalam rombongan tersebut. Subhanalloh, perjuangan para calon mahasiswa dalam menuntut ilmu tampak dalam rombongan tersebut. Semoga apa yang mereka cita-citakan dan apa yang bapak-ibu mereka harapkan dari putra-putri mereka, para calon mahasiswa mahasiswa, bisa terpenuhi. Sesungguhnya balasan setimpal dengan amal perbuatan mereka...

Saya berpesan kepada adik-adik saya, para calon mahasiswa dan mahasiswi, tunaikan cita-cita dan harapan dari orang tuamu. Jangan kau bertingkah sembarangan di tempat kostmu setelah kau ditinggal pulang orang tuamu ke kampung. Apabila orang tuamu tidak mengawasimu, ingatlah ada Dzat yang selalu mengawasimu...

Wahai adik-adikku, sekali lagi, jaga nama baik keluargamu, jangan rusak nama baik mereka dengan tindakan bodohmu. Karena umumnya anak muda masih lemah cara berpikirnya, labil emosinya, suka ikut-ikutan meskipun yang mereka ikuti itu membahayakan diri-diri mereka.

Wahai adik-adikku, carilah lingkungan yang bisa mengamankanmu. Carilah pula teman-teman sholeh yang selalu mendekatkanmu kepada Tuhanmu. Jauhi teman-teman yang mengajak pergaulan bebas, hura-hura, tidak sungguh-sungguh dalam berkuliah, dan tidak menasihatimu ketika kau terjerembab dalam lubang keteledoran pemuda lazimnya.

Wahai adik-adikku, terutama yang puteri, jagalah auratmu-jagalah kehormatanmu. Islam telah memuliakanmu dengan jilbab syar'i yang melindungimu dari pandangan dan godaan lelaki yang biadab. Berpakaianlah yang sopan, yang tidak mengundang ketertarikan serigala-serigala busuk di sekelilingmu. Selalulah mengajak sesama teman puterimu bila keluar tempat kostmu, meskipun sekedar membeli makanan untuk santap malam. Saya sebagai lelaki, sungguh tahu bagaimana rawannya teman-teman puteri ketika mereka sendirian jauh dari orang-orang tua mereka...Hingga sering saya mendengar kabar miris tentang rusaknya kehormatan para mahasiswi akibat salah pergaulan. Jangan sampai hal ini terjadi para dirimu, duhai adik-adikku calon mahasiswi.

Terakhir, berilah kabar selalu tentang kesehatan dan keberhasilanmu kepada orang tuamu yang sangat jauh di kampungnya. Entah telepon atau minimal SMS sudah lebih dari cukup. Jangan kau beralasan tidak punya pulsa, sehingga kau melupakan kedua orang tuamu yang senantiasa terus berdoa untuk kesuksesanmu. Cobalah kau rasakan betapa perihnya hati bapak-ibumu karena jauh dari buah hati mereka, yang biasanya selalu dekat mendampingi mereka, di kampung halaman mereka...

Selamat menuntut ilmu, semoga sukses dan menjadi seorang intelek yang bermanfaat untuk kebaikan Islam wal Muslimin...

Doa orang tuamu serta pengharapan mereka, selalu teriring untukmu...


Sabtu, 04 Juli 2009

Dua Pecinta Hadir ke Kotaku

Menunggu tibanya waktu Ashar, ada sesuatu yang ingin kuceritakan. Tentang tanda akhir zaman yang sekarang mulai bermunculan. Cobalah kau perhatikan pula sekelilingmu. Tanda aneh yang mulai digemari kebanyakan orang terutama pada remaja-remajinya.

Keburukan yang menurut mereka adalah kenikmatan. Kedamaian ketika menikmatinya, kesejukan ketika mendengarnya, demikian kata mereka. Ya Robb kami, tunjukkanlah bahwa keburukan ini tampak buruk bagi kami, dan tunjukkanlah pula kesejukan sebenarnya bukanlah kesejukan, melainkan kepanasan dan kekeringan...

Musik telah mengubah segalanya. Musik telah melenakan remaja-remajinya. Mereka sudah lupa daratan mengikuti genre musiknya. Ada yang teringat pacar gelapnya ketika mendengar musik cinta. Dan baru saja aku mendengar musik, sepertinya musik tahun 60-an. Amboi, jadi rusak hati tatkala mendengarnya... sekarang ganti musik lagi, musik instrumental... MasyaAlloh.

Alhamdulillah,
setelah sholat Ashar dikerjakan dan segala pujian digemakan untuknya, tiba-tiba tidak kusangka, datang dari belakangku temanku yang sudah 6 bulan lamanya di pondok. Di pondok itulah benih kecintaannya kepada Al-Quran terus dia semaikan. Dari pagi hingga pagi lagi, Al-Quran dan Al-Quran yang jadi perhatiannya. Dia hafal Al-Quran beberapa ayat di pagi hari untuk dia setorkan hafalannya di sore hari. Begitu seterusnya...

Sebulan baginya sungguh sangat berarti. Karena baginya 1 bulan adalah waktu dimana dia harus menghafal 1 juz Al-Quran. Ujian hafalan Al-Quran di akhir bulan telah menantinya. Dan insyaAlloh aku yakin bahwa semangatnya menghafal Al-Quran bukan sebab adanya ujian tersebut. Melainkan dari cita-cita dan semangatnya yang tinggi untuk menjadikan Al-Quran sebagai pegangan hidup.

Aku berpisah dari temanku itu. Temanku hendak meneruskan perjalanannya mengunjungi sanak kerabat dan teman-temannya di Malang, berlanjut ke Surabaya. Kemudian dia kembali lagi ke pondoknya, hingga 3 tahun menyelesaikan studinya. Aku telah berpisah dari sebaik-baik temanku. Semoga kita berjumpa lagi. Dengan keadaan yang lebih baik lagi, amin.

Perpisahanku ini akhirnya mengembalikan kepada temanku yang lain yang juga cinta. Bukan cinta Al-Quran tetapi cinta musik. Cinta yang salah, cinta yang menjerumuskan, dan cinta yang tidak menyelamatkan.

Alunan musik tidak dapat menyelamatkanmu dari panasnya neraka. Alunan musik menghitamkan hatimu, jauh dari cahaya kebenaran. Alunan musik membuat tabiatmu keras dan kurang tegas. Alunan musik meyakinkanmu, bahwa artis itu Tuhanku, musik agamaku, gitar Nabiku.

Dan alunan musik mempola kalimat terakhirmu. Kalimat terakhir di saat nafas kematianmu tersengal-sengal. Kalimat itu berbunyi, “Manuke manuke cucak rowo, cucak rowo dowo buntute......”. Bukannya kalimat pentauhidan kepada Robbmu...

Ingat teman, musik dan Al-Quran seperti dua kutub, kutub utara dan kutub selatan. Kalau kau pergi ke kutub utara, kau akan menjauhi kutub selatan. Begitu sebaliknya. Jika kau cinta dan rindu terhadap musik, maka otomatis kau akan berpaling dan jauh dari Al-Quran.

Semoga kau tidak tersinggung atas nasihatku ini, teman....



Jumat, 03 Juli 2009

Jeritan Orang Miskin Kepadaku

Tolong...tolong. Kemana kau wahai yang punya telinga. Kau membawa lari harta-hartaku. Karena di dalam hartamu ada hak-hak untukku. Kenapa kau palingkan wajahmu dari kemiskinanku. Apakah bagimu kondisiku ini, kurang bisa menggugah hatimu?

Kau sengaja tutup rapat pintumu, ketika aku hadir mengemis padamu. Tidakkah kau sadari, surgamu telah datang di depan pintumu. Tak perlu jauh-jauh kau ke gubukmu, karena aku -surgamu, telah tiba ke istanamu.

Anakku hampir saja mati, rumahku hampir saja meruntuhiku, pakaianku tinggal beberapa yang masih utuh. Biaya sudah melambung tinggi, kesedihanku tambah hari tambah memuncak. Kemana-mana aku harus berjalan di atas kakiku, sedang kau membiarkanku melenggang begitu saja dengan motormu melewatiku. Hingga asap motormu saja yang membekas bagiku, bukan kebaikanmu menyertakanku di atas motormu.

Kalau kau memang tak punya harta, kenapa kau tidak memberikan senyummu padaku? Ataukah tegur sapamu yang dengan penuh hangat kepadaku? Ataukah lainnya, yang bagimu terasa tidak sulit dilakukan?

Oh ya, kulihat kau sudah lebih dulu mendapat hidayah dari Robbmu? Kenapa oh.. kenapa kau menelantarkanku di dalam lumpur kehinaan tanpa hidayah? Wahai tuan, kami lebih butuh hidayah atas kami. Sangat butuh dari kebutuhan kami lainnya. Dengan hidayah itu, kami bisa syukur dan sabar atas apa yang ditakdirkan atas kami. Kemiskinan dan kesedihan.

Kami berharap kau hampiri kami, memberikan kami, membagikan kami, hidayah dari Tuhanmu untuk kami. Ajarkanlah kami tentang Islam, ajarkan kami tentang sunnah Nabimu. Selamatkan kami dengan petunjuk agama Robbmu. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.

Beritahukan aku masjid, tempat dimana kau menambah ilmu agamamu. Karena mungkin kau suatu hari sibuk dengan urusanmu, sehingga kau tidak bisa lagi mengajakku serta ke tempat pengajianmu.

Wahai tuan, aku sudah lelah dengan kemiskinan. Dan aku tidak mau miskin untuk kedua kalinya. Miskin ilmu agama, miskin kebahagiaan hati, miskin arti hidup, miskin gambaran hari pembalasan, miskin tentang bayangan surga, dan miskin keberharapan kasih sayang Robbku untukku...

Kutunggu dakwahmu padaku...
dan kutunggu sedikit harta untuk membebaskan kegetiran urusanku...
Cepatlah kemari tuan,
aku menjerit.....




Kukira Kau Teman Baikku

Seharian aku di depan perpustakaan, sendirian saja. Aku mengamati sekelilingku. Berharap kiranya kudapati teman setia mendatangiku. Sekedar menyapaku tak masalah. Yang penting ada seseorang yang mampu menghilangkan penatku ketika itu. Apalagi waktu itu, aku sedang browsing, mencari bahan dengan laptopku -bahan untuk kebutuhan akalku.

Untungnya yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dengan ucapan salam, pertemuan kami dimulai. Oh..dia juga membawa temannya yang lain, yang juga kukenal karena sama-sama teman sekelasku di kampus.

Temanku memulai perbincangan ringan dan aku antusias menyambutnya dengan jawaban ringan pula, layaknya seorang sahabat dekat Wajahnya yang ceria nan guyonannya yang dekil, membuatku terhibur barang sesaat. Hingga waktu itu tiba. Waktu ketika terdengar panggilan yang kutahu seseorang harus menghadiri. Panggilan kekasih kepada para pecintanya. Atau lebih tepatnya panggilan Tuhan kepada hamba-hambaNya.

Yah, azan Dhuhur terdengar semarak dari jauh. Tidak ada daya tarik di dalam diri temanku untuk menyambutnya. Aku tahu dan aku yakin, bahwa mereka seagama denganku. Agama Islam, agamanya seorang muslim. Aku berharap dari dalam hati mereka, keceriaan wajah yang tersirat seketika itu juga, karena mendengar panggilan azan.

Akan tetapi, oh temanku...mengapa kau tidak menyambut gembira panggilan azan itu? Bukankah Tuhanmu telah menjadikanmu pribadi dengan wajah yang menyenangkan untukku? Bukankah kau sungguh jengkel apabila harga diri persahabatan kita ternoda, sedangkan kaulah yang pertama maju melawan para perusak persahabatan kita, dengan kedua tanganmu? Ingatlah kedua tanganmu itu juga pemberian dari Tuhanmu.

Wahai teman, mari sholat dulu yuk. Apapun pekerjaan kita, bisa kita kerjakan lagi nanti. Obrolan asyik kita juga akan lebih seru nantinya. Ayo teman, sholat dulu... Seandainya kau tidak beranjak dari tempatmu, maka aku telah terlepas dari amanah Tuhanku dengan menasihatimu, saat itu. Hidayah Tuhanmu sepertinya belum turun saat itu....kepadamu.

Akhirnya aku melangkah gontai ke masjid, teringat teman-temanku yang jauh kutinggal di tempatnya semula, di depan perpustakaan. Moga saja, mereka masih tetap sholat, meski waktu sholatnya agak diakhirkan... Wahai teman, jangan salahkan Tuhanmu, pabila Tuhanmu nantinya juga mengakhirkanmu masuk ke dalam surgaNya...

InsyaAlloh kita berjumpa lagi, di depan perpustakaan atau di tempat lain. Dengan wajah tetap ceria, persahabatan tak pupus, dan hati yang lapang terhadap cahaya kebenaran... amin.



Berlariannya Waktuku

Waktuku dan waktumu sudah ditentukan lamanya. Hanya 24 jam saja. Siangnya dan malamnya hanya terbatas 12 jam. Mengapa waktu yang singkat ini terasa lambat laun kian cepat saja. Padahal keseharianku tidak ada yang berubah. Waktu tidur, waktu makan, dan waktuku menuntut ilmu juga sesuai jadwal sebagaimana mestinya. Namun kiranya benar-benar waktuku sulit kukejar.

Aku berusaha menghentikan sejenak kegiatanku, untuk mencermati bagaimana waktuku berjalan. Oh...kutahu sekarang. Waktuku memang berjalan sangat cepat. Bukan detik demi detiknya yang ingin merongrong maju, namun ada hal lain yang menyebabkan waktuku sepertinya berjalan cepat.

Wahai diriku, kau sekarang sudah beranjak dewasa. Tubuhmu makin meninggi. Suaramu makin menggema. Kemulianmu kian terangkat. Cara berpikirmu sudah terlihat kematangannya. Emosimu mulai terjaga. Dan cintamu pada lain jenismu mulai terasah.

Nah, kedewasaanku ini yang membuat waktuku makin cepat dan bergerak cepat. Karena oh karena....kegiatanku mulai bertambah, kewajibanku tambah berat, dan banyak hak yang harus terpenuhi, sedang aku tidak menghiraukan berjalannya waktu.

Waktuku memang tetap 24 jam saja, akan tetapi intensitas kegiatanku tambah usia tambah banyak saja. Buat apa kusesali kedewasaanku ini? Harusnya kusikapi dengan arif dan cerdas. Menjadikan kedewasaanku ini ladang bagi kebaikan diri dan sekitarku. Mereka orang-orang butuh bantuanku. Mereka para fakir miskin membutuhkan uluran tanganku. Teman-temanku membutuhkan pula nasihatku. Dan kebaikan ditunggu juga oleh manusia-manusia lainnya.

Maka kukatakan pada diriku sendiri,

wahai orang yang telah dewasa, jadilah dirimu pribadi yang perkasa. Siap menerima segala macam halangan deru ujian dan cobaan yang siap menggoyahkanmu. Gigitlah prinsip bijak dari Tuhanmu. Jadilah sesosok manusia yang unggul bilamana menjadi manusia yang sempurna tidaklah mungkin.

Kewajibanmu telah menunggu, hak-hak di sekelilingmu telah menanyakanmu. Jangan kau lari dari semua ini. Jangan kau pergi. Usah kau sedih. Buatlah kedewasaanmu adalah masa bakti untuk agama dan negerimu. Ingatlah selalu, wahai diriku....