Sabtu, 04 Juli 2009

Dua Pecinta Hadir ke Kotaku

Menunggu tibanya waktu Ashar, ada sesuatu yang ingin kuceritakan. Tentang tanda akhir zaman yang sekarang mulai bermunculan. Cobalah kau perhatikan pula sekelilingmu. Tanda aneh yang mulai digemari kebanyakan orang terutama pada remaja-remajinya.

Keburukan yang menurut mereka adalah kenikmatan. Kedamaian ketika menikmatinya, kesejukan ketika mendengarnya, demikian kata mereka. Ya Robb kami, tunjukkanlah bahwa keburukan ini tampak buruk bagi kami, dan tunjukkanlah pula kesejukan sebenarnya bukanlah kesejukan, melainkan kepanasan dan kekeringan...

Musik telah mengubah segalanya. Musik telah melenakan remaja-remajinya. Mereka sudah lupa daratan mengikuti genre musiknya. Ada yang teringat pacar gelapnya ketika mendengar musik cinta. Dan baru saja aku mendengar musik, sepertinya musik tahun 60-an. Amboi, jadi rusak hati tatkala mendengarnya... sekarang ganti musik lagi, musik instrumental... MasyaAlloh.

Alhamdulillah,
setelah sholat Ashar dikerjakan dan segala pujian digemakan untuknya, tiba-tiba tidak kusangka, datang dari belakangku temanku yang sudah 6 bulan lamanya di pondok. Di pondok itulah benih kecintaannya kepada Al-Quran terus dia semaikan. Dari pagi hingga pagi lagi, Al-Quran dan Al-Quran yang jadi perhatiannya. Dia hafal Al-Quran beberapa ayat di pagi hari untuk dia setorkan hafalannya di sore hari. Begitu seterusnya...

Sebulan baginya sungguh sangat berarti. Karena baginya 1 bulan adalah waktu dimana dia harus menghafal 1 juz Al-Quran. Ujian hafalan Al-Quran di akhir bulan telah menantinya. Dan insyaAlloh aku yakin bahwa semangatnya menghafal Al-Quran bukan sebab adanya ujian tersebut. Melainkan dari cita-cita dan semangatnya yang tinggi untuk menjadikan Al-Quran sebagai pegangan hidup.

Aku berpisah dari temanku itu. Temanku hendak meneruskan perjalanannya mengunjungi sanak kerabat dan teman-temannya di Malang, berlanjut ke Surabaya. Kemudian dia kembali lagi ke pondoknya, hingga 3 tahun menyelesaikan studinya. Aku telah berpisah dari sebaik-baik temanku. Semoga kita berjumpa lagi. Dengan keadaan yang lebih baik lagi, amin.

Perpisahanku ini akhirnya mengembalikan kepada temanku yang lain yang juga cinta. Bukan cinta Al-Quran tetapi cinta musik. Cinta yang salah, cinta yang menjerumuskan, dan cinta yang tidak menyelamatkan.

Alunan musik tidak dapat menyelamatkanmu dari panasnya neraka. Alunan musik menghitamkan hatimu, jauh dari cahaya kebenaran. Alunan musik membuat tabiatmu keras dan kurang tegas. Alunan musik meyakinkanmu, bahwa artis itu Tuhanku, musik agamaku, gitar Nabiku.

Dan alunan musik mempola kalimat terakhirmu. Kalimat terakhir di saat nafas kematianmu tersengal-sengal. Kalimat itu berbunyi, “Manuke manuke cucak rowo, cucak rowo dowo buntute......”. Bukannya kalimat pentauhidan kepada Robbmu...

Ingat teman, musik dan Al-Quran seperti dua kutub, kutub utara dan kutub selatan. Kalau kau pergi ke kutub utara, kau akan menjauhi kutub selatan. Begitu sebaliknya. Jika kau cinta dan rindu terhadap musik, maka otomatis kau akan berpaling dan jauh dari Al-Quran.

Semoga kau tidak tersinggung atas nasihatku ini, teman....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar