Jumat, 03 Juli 2009

Jeritan Orang Miskin Kepadaku

Tolong...tolong. Kemana kau wahai yang punya telinga. Kau membawa lari harta-hartaku. Karena di dalam hartamu ada hak-hak untukku. Kenapa kau palingkan wajahmu dari kemiskinanku. Apakah bagimu kondisiku ini, kurang bisa menggugah hatimu?

Kau sengaja tutup rapat pintumu, ketika aku hadir mengemis padamu. Tidakkah kau sadari, surgamu telah datang di depan pintumu. Tak perlu jauh-jauh kau ke gubukmu, karena aku -surgamu, telah tiba ke istanamu.

Anakku hampir saja mati, rumahku hampir saja meruntuhiku, pakaianku tinggal beberapa yang masih utuh. Biaya sudah melambung tinggi, kesedihanku tambah hari tambah memuncak. Kemana-mana aku harus berjalan di atas kakiku, sedang kau membiarkanku melenggang begitu saja dengan motormu melewatiku. Hingga asap motormu saja yang membekas bagiku, bukan kebaikanmu menyertakanku di atas motormu.

Kalau kau memang tak punya harta, kenapa kau tidak memberikan senyummu padaku? Ataukah tegur sapamu yang dengan penuh hangat kepadaku? Ataukah lainnya, yang bagimu terasa tidak sulit dilakukan?

Oh ya, kulihat kau sudah lebih dulu mendapat hidayah dari Robbmu? Kenapa oh.. kenapa kau menelantarkanku di dalam lumpur kehinaan tanpa hidayah? Wahai tuan, kami lebih butuh hidayah atas kami. Sangat butuh dari kebutuhan kami lainnya. Dengan hidayah itu, kami bisa syukur dan sabar atas apa yang ditakdirkan atas kami. Kemiskinan dan kesedihan.

Kami berharap kau hampiri kami, memberikan kami, membagikan kami, hidayah dari Tuhanmu untuk kami. Ajarkanlah kami tentang Islam, ajarkan kami tentang sunnah Nabimu. Selamatkan kami dengan petunjuk agama Robbmu. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.

Beritahukan aku masjid, tempat dimana kau menambah ilmu agamamu. Karena mungkin kau suatu hari sibuk dengan urusanmu, sehingga kau tidak bisa lagi mengajakku serta ke tempat pengajianmu.

Wahai tuan, aku sudah lelah dengan kemiskinan. Dan aku tidak mau miskin untuk kedua kalinya. Miskin ilmu agama, miskin kebahagiaan hati, miskin arti hidup, miskin gambaran hari pembalasan, miskin tentang bayangan surga, dan miskin keberharapan kasih sayang Robbku untukku...

Kutunggu dakwahmu padaku...
dan kutunggu sedikit harta untuk membebaskan kegetiran urusanku...
Cepatlah kemari tuan,
aku menjerit.....




Tidak ada komentar:

Posting Komentar