Jumat, 03 Juli 2009

Kukira Kau Teman Baikku

Seharian aku di depan perpustakaan, sendirian saja. Aku mengamati sekelilingku. Berharap kiranya kudapati teman setia mendatangiku. Sekedar menyapaku tak masalah. Yang penting ada seseorang yang mampu menghilangkan penatku ketika itu. Apalagi waktu itu, aku sedang browsing, mencari bahan dengan laptopku -bahan untuk kebutuhan akalku.

Untungnya yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dengan ucapan salam, pertemuan kami dimulai. Oh..dia juga membawa temannya yang lain, yang juga kukenal karena sama-sama teman sekelasku di kampus.

Temanku memulai perbincangan ringan dan aku antusias menyambutnya dengan jawaban ringan pula, layaknya seorang sahabat dekat Wajahnya yang ceria nan guyonannya yang dekil, membuatku terhibur barang sesaat. Hingga waktu itu tiba. Waktu ketika terdengar panggilan yang kutahu seseorang harus menghadiri. Panggilan kekasih kepada para pecintanya. Atau lebih tepatnya panggilan Tuhan kepada hamba-hambaNya.

Yah, azan Dhuhur terdengar semarak dari jauh. Tidak ada daya tarik di dalam diri temanku untuk menyambutnya. Aku tahu dan aku yakin, bahwa mereka seagama denganku. Agama Islam, agamanya seorang muslim. Aku berharap dari dalam hati mereka, keceriaan wajah yang tersirat seketika itu juga, karena mendengar panggilan azan.

Akan tetapi, oh temanku...mengapa kau tidak menyambut gembira panggilan azan itu? Bukankah Tuhanmu telah menjadikanmu pribadi dengan wajah yang menyenangkan untukku? Bukankah kau sungguh jengkel apabila harga diri persahabatan kita ternoda, sedangkan kaulah yang pertama maju melawan para perusak persahabatan kita, dengan kedua tanganmu? Ingatlah kedua tanganmu itu juga pemberian dari Tuhanmu.

Wahai teman, mari sholat dulu yuk. Apapun pekerjaan kita, bisa kita kerjakan lagi nanti. Obrolan asyik kita juga akan lebih seru nantinya. Ayo teman, sholat dulu... Seandainya kau tidak beranjak dari tempatmu, maka aku telah terlepas dari amanah Tuhanku dengan menasihatimu, saat itu. Hidayah Tuhanmu sepertinya belum turun saat itu....kepadamu.

Akhirnya aku melangkah gontai ke masjid, teringat teman-temanku yang jauh kutinggal di tempatnya semula, di depan perpustakaan. Moga saja, mereka masih tetap sholat, meski waktu sholatnya agak diakhirkan... Wahai teman, jangan salahkan Tuhanmu, pabila Tuhanmu nantinya juga mengakhirkanmu masuk ke dalam surgaNya...

InsyaAlloh kita berjumpa lagi, di depan perpustakaan atau di tempat lain. Dengan wajah tetap ceria, persahabatan tak pupus, dan hati yang lapang terhadap cahaya kebenaran... amin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar